Ayah...
Ayah... Hati ini merindukanmu, dimalam kelam yang mencekam ini aku rindu, terbayang masa ayah membuka lahan hutan untuk ladang demi mencapai sebuah impian, ayah berikhtiar untuk melanjutkan kelangsungan hidup anak-anak mu. Terpikir dan dengan nada suara halus keluar dari mulutku bahwa ayah telah pergi, untuk meninggalkan kami anak-anak mu dan ibu. Dari perantauan kini terbayang dan terkenang pada waktu itu, aku yang kecil mungil berumur 2 tahun setengah, semangat hidupku mungkin yang sedang berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pada usia menjelang remaja, kini belum terlintas dalam pikirku, bahwa ayah telah banyak berjuang untuk anakmu yang bungsu ini, dan pada keluarga yang amat sangat engkau sayang dn cinta. Tidak tersadari olehku, waktu itu untuk siapa ayah berjuang, yang betapa bodohnya baru saat ini terasa dalam hati yang paling dalam ini arti dari semua jerih payah mu ayah.
Ayah....
Kini untung dan rugi nasib tidak lagi tercari, jati diri juga yang tidak tersadari.
Kini ayah telah menutupkan mata melentangkan tubuhmu dalam keranda, engkau terbalut dengan bungkus putih yang lembut sembunyikan dirimu, dishalatkan orang kini untuk shalat ku, diantar segenap orang berjejer memanjang,
bumi berlubang menjadi rumahmu, tanah liat sebagaik bantal untuk tidurmu, ku ketahui bahwa ayah kini telah tiada....
Sekarang seakan mulai terpikirkan olehku, bahwa apa yang ayah kehendaki untuk kami anak-anak ayah hanyalah kebahagian semata demi sebuah cita-cita, terlintas dalam pikirku sebuah nama yang harus ku raih dengan cita-cita seperti banggaan setiap orang tua lainnya yang juga menjadi kebanggan Ayah...
Ayah...
Tak hingga ayah menikmati hasil ladang yang ayah kerjakan, kini ayah telah pergi untuk meninggalkan kami untuk selamanya. Hanya berita yang kudengar dari ibu tentang ayah yang tercinta, dan aku baru mengerti apa makna dari kehidupan ini.......
Ayah...
I love my father & mather......